4November2019

Bahayanya Menyampaikan Ayat Al-Quran Sepotong-sepotong

Posted by Nur Latifah under: Islam.

Belakangan ini kerinduan pada ulama-ulama yang sudah meninggal dunia sedikit dapat terobati dengan timbulnya K.H Ahmad Bahaudin Nur Salim atau yang lebih diketahui dengan Gus Baha. Beliau termasuk ulama yang masih terbilang muda, tapi mempunyai pengetahuan yang luas serta digemari oleh umat islam dari beberapa golongan.

Pengajian beliau benar-benar gampang kita jumpai di sosial media. Langkah penyampian beliau yang gampang dimengerti, walau mengangkat materi yang berat, membuat beliau jadi ulama muda yang istimewa sekarang.

Dalam salah satunya pengajian beliau di Masjid Sirathal Mustaqim, Kota Ansan, Korea Selatan, Beliau pernah menerangkan tentang bahaya dari mencuplik satu ayat, hadis atau pengucapan ulama dengan sepotong-potong.

“Memang sejak dunia sosmed, dengan sinyal kutip telah kecelakaan. Mencuplik pengucapan tokoh atau apa cuma sepotong-potong,” papar beliau.

Beliau menerangkan tentang kejadian jumlahnya orang yang mengemukakan suatu hal tidak dengan utuh atau komplet, dengan alasan ikuti hadis nabi yang mengeluarkan bunyi,

“Sampaikan dariku meskipun cuma satu ayat”.

Bila kita meneliti selanjutnya tentang hadis itu dalam kitab Sahih al-Bukhari, hadis itu masih ada lanjutannya. Diluar itu, hadis itu dalam kitabnya Imam al-Bukhari tidak dimasukkan dalam bab ceramah, namun justru dalam bab tentang suatu hal yang disampaikan dari Bani Israel. Jadi, salah besar bila hadis itu jadikan alasan untuk berdakwah bermodalkan pengetahuan yang minim.

Selanjutnya, Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan tujuan hadis itu dalam kitab Fathul Bari, yakni jika hadis itu dengan maksud agar beberapa teman dekat yang dengarkan ayat yang di turunkan pada Rasuullah SAW agar selekasnya menyampaikannya pada teman dekat lain. Hal itu karena semua teman dekat tidak pada sebuah tempat, saat satu ayat turun.

Gus Baha’ meneruskan penuturannya tentang bahaya mencuplik beberapa pengucapan ulama atau ayat Al Qur’an dengan analogi waqaf pada ayat Al Qur’an.

“Al Qur’an, jika waqofnya salah, ya bahaya, contohnya ini, ada orang waqaf (berhenti membaca ayat) asal-asalan di muka orang yang memahami bahasa Arab,” lanjut beliau.

Beliau mencuplik surat al-Baqarah ayat 26,

“Sesungguhnya Allah tidak malu (enggan) untuk bikin perumpamaan berbentuk nyamuk atau yang lebih dari itu”.

Misalnya saja, ada satu orang yang membaca ayat itu di muka orang yang memahami bahasa Arab dengan membaca waqaf pada lafadz la yastahyi. Beliau menjelaskan jika pasti ayat itu mempunyai makna yang bahaya, yakni Allah SWT tidak memiliki rasa malu.

“Di Al Qur’an itu, ada waqaf yang haram, yakni waqaf yang mengakibatkan kerusakan arti,” jelas murid Mbah Maimun Zubair ini.

Ayat di atas jelas tidak bisa dibaca sepotong, sebab akan mempunyai tujuan yang jauh dari tujuan aslinya, yakni jika sebenarnya Allah SWT tidak malu membuat satu perumpamaan berbentuk nyamuk atau yang lebih rendah dari nyamuk. Ayat itu adalah keterangan jika Allah SWT tidak enggan atau malu saat membuat perumpaan dalam kalam-Nya dengan memakai contoh dalam bentuk nyamuk.

“Jadi (tujuan lafaz ayat dalam) ballighu ‘anni walaupun ayat itu bukan ayat qur’an yang potongan, namun ayat yang muhkamah (mempunyai tujuan yang utuh),” papar Gus Baha.

Apa yang sudah dikatakan oleh Gus Baha ialah benar apa yang ada. Keterangan atau penafsiran satu ayat Al-Qur’an atau hadis tidak bisa dikerjakan oleh sembarangan orang bermodalkan ayat yang sepotong-potong.

Imam Jalaludin as-Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulum Al-Quran mengatakan jika satu orang yang akan menerangkan atau menafsirakan ayat Al-Qur’an harus mempunyai perangkat-perangkat pengetahuan tersendiri, seperti pengetahuan lughot, nahwu, tasrif, balaghah, ushul fiqih dan sebagainya.

Oleh karenanya, seyogyanya satu orang mubaligh harus mempunyai pengetahuan yang pasti serta utuh dalam menyampikan suatu hal, bukan sekedar bermodal satu ayat, selanjutnya memvonis suatu hal berdasar pengetahuannya. Sebab bisa saja satu ayat masih terkait dengan ayat lain sebagai takhsis (pengecualiannya), atau satu ayat dinasakh (direvisi) oleh ayat lainnya.

Wallahu a’lam.

0